Uc Banner

Cerita Gus Dur Tawarkan Soeharto Masuk NU Golongan Baru

Radarislam.com ~ Pada suatu hari saat puasa, Gus Dur mendapatkan undangan dari Presiden Soeharto ke tempat tinggalnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat untuk buka puasa bersama. Gus Dur saat itu ditemani oleh Kiai Asrowi. 

Setelah berbuka dan shalat maghrib berjamaah. Ketiganya melanjutkan acara makan besar dengan menu yang terbilang mewah. Saat menyantap makanan, ada percakapan antara Gus Dur dengan Soeharto. 

“Sampai malam di sini, Gus Dur?” tanya Soeharto 

“Enggak Pak. Saya ada acara lain,” jawab Gus Dur. 

“Oh iya.. silaken. Tapi kiainya tetap di sini kan?” pinta Soeharto sambil tersenyum ke arah Kiai Asrowi. 

“Oh tentu Pak. Beliau akan di sini terus tetapi sebelum itu ada penjelasan,” ucap Gus Dur. 

“Apa?” tanya Pak Harto. 

"Shalat tarawaihnya ikut cara NU lama atau NU Golongan baru?” 

Pak Harto bingung mendengarkan penjelasan Gus Dur. Baru kali ini dia mendengar ada NU lama ataupun baru. 

Pak Harto pun bertanya, “Apa bedanya NU lama dengan NU baru?” 

Gus Dur menjelaskan, “NU lama kalau shalat tarawih dan witir 23 rakaat.” 

“Oh iya ya. Gak apa-apa,” kata Pak Harto sambil mengangguk-angguk. 

Gus Dur diam dan tidak bicara. Pak Harto bertanya lagi, “Kalau NU baru bagaimana?” 

“Kalau yang baru dapat diskon 60%,” jawab Gus Dur enteng.
"Hahahahahahaha.....!!!" Gus Dur, Pak Harto dan Kiai Asrowi pun langsung tertawa dengan terpingkal-pingkal

“Maksudnya, Shalat Tarawih dan Witir hanya tinggal 11 rakaat saja,” lanjut Gus Dur. 

“Baiklah, Saya ikut NU baru saja, pinggang saya sakit,” ucap Pak Harto sambil memegang pinggangnya. 

Baca Juga:
- Buka Ponsel Suami Tanpa Izin, Wanita Arab Ini Di Denda Rp 553,4 Juta Karena Langgar Privasi
- Inspiratif! Kapolsek Sukoharjo Ini Hafal 30 Juz Al Quran


Sumber: Nu Online / muslimoderat.com
Sukai Artikel ini

Share This !

Baca Juga :