Uc Banner

Kisah Bapak Tua Penjual Amplop

Radarislam.com ~ Di depan Masjid Salman ITB, ada seorang bapak tua yang duduk termenung di depan barang dagangannya. Dia menjual beberapa amplop yang sudah dimasukan dalam plastik.

Saya sendiri merasa aneh dengan dagangan yang dia tawarkan sebab amplop bukanlah benda yang terlalu dibutuhkan sekarang. Orang-orang sudah memakai email , sms, WA, BBM dan semacamnya untuk berikirim pesan tanpa perlu amplop kecil seperti itu. Tampaknya bapak itu tidak tahu kalau amplop jarang diminati lagi. Orang-orang yang lalu lalang di depan masjid terlihat tidak tertarik membeli dagangan bapak tua yang malang itu.

Ketika shalat Jumat di masjid Salman, saya kebetulan melihat bapak tua itu lagi dan saya sudah berjanji membeli dagangannya tersebut. Sejujurnya saya tidak terlalu membutuhkannya, hanya  berniat menolong si bapak. Setelah shalat selesai, saya datang ke bapak tersebut. Saya tanya kepada dia berapa harga amplopnya.

Dia menjawab, “seribu rupiah.”

“Oh Tuhan, harga sebungkus amplop isi 10 lembar kenapa hanya seribu?” pikir saya. 

Uang seribu itu tak berarti apa-apa untuk sekarang ini? Dibelikan gorengan hanya dapat 1 biji.. Mungkin bagi saya atau anda tidak terlalu banyak uang sejumlah itu, tetapi bagi sang bapak tua tersebut, pasti sangat berarti.

“Saya beli 10 bungkus deh, Pak,” ucap saya kepada Bapak tua.

Saya berikan uang 10 ribu rupiah. Dengan tangan yang bergetar, bapak tua itu terlihat gembira menerima pemberian saya sambil menyerahkan 10 bungkus amplop. Saya masih heran kenapa penjual itu hanya memberi harga 100 rupiah per amplopnya. Kalau di toko atau warung terdekat, mungkin tidak bisa mendapatkan amplop dengan harga semurah itu. Bapak itu menjawab kalau dia membeli beberapa bungkus amplop di toko grosir. Di sana harga setiap bungkus amplop adalah 750 rupiah dan bapak itu hanya mengambil untuk 250 rupiah tiap bungkusnya.

Mendengar jawaban bapak itu, saya pun jadi terharu. Di tengah banyaknya pedagang “nakal” yang menaikkan harga barang berkali-kali lipat. Bapak ini, justru sebaliknya. Dia hanya mengambil sedikit keuntungan untuk mencari nafkah. Keuntungan yang tidak seberapa, Itupun kalau laku semua, kalau tidak ada yang laku?

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya cepat bergegas pergi meninggalkannya karena takut ketahuan kalau mata ini juga sudah mulai basah.

Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.
Jika melihat penjual-penjual semacam ini, belilah barang dagangan dari mereka meskipun tidak terlalu membutuhkan. Mereka ini lebih baik daripada pengemis-pengemis yang mengharapkan belas kasihan hanya dari orang lain. Uang dari hasil penjualan mereka tentu akan sangat membantu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.
Sumber:  Rinaldi Munir, Bandung (fimadani.com)

Sukai Artikel ini

Share This !

Baca Juga :