Lafal Niat, Doa dan Tata Cara Lengkap Sholat Gerhana Bulan - Radar Islam
loading...

Lafal Niat, Doa dan Tata Cara Lengkap Sholat Gerhana Bulan

Lafal Niat, Doa dan Tata Cara Lengkap Sholat Gerhana Bulan
Sholat Sunnah Gerhana Bulan, RadarIslam.com ~ Tahun 2018 ini diprediksi terjadi lima kali gerhana, yaitu gerhana Bulan total 31 Januari 2018 yang dapat diamati dari Indonesia, gerhana matahari sebagian 15 Februari 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia, gerhana matahari sebagian 13 Juli 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia, gerhana Bulan total 28 Juli 2018 yang dapat diamati dari Indonesia, dan gerhana matahari sebagian 11 Agustus 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia.

Bagi umat muslim, amalan yang disunahkan saat terjadi gerhana adalah dengan melaksanakan shalat sunah gerhana bulan (Sholat Khusuf). Oleh karena itu saat gerhana Bulan total alias Blood Moon terlama terjadi Sabtu (28/7/2018) nanti, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan ibadah tersebut.

Pendapat beberapa mazhab berbeda mengenai pelaksanaan shalat gerhana Bulan. Ada yang menganjurkan untuk dilakukan secara berjamaah. Seperti yang RadarIslam kutip dari NU Online, pendapat ini sesuai riwayat berikut:

و) القسم الثاني من النفل ذي السبب المتقدم وهو ما تسن فيه الجماعة صلاة (الكسوفين) أي صلاة كسوف الشمس وصلاة خسوف القمر وهي سنة مؤكدة

Artinya, “Jenis kedua adalah shalat sunah karena suatu sebab terdahulu, yaitu shalat sunah yang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah yaitu shalat dua gerhana, shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan. Ini adalah shalat sunah yang sangat dianjurkan,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, Bandung, Al-Maarif, tanpa keterangan tahun, halaman 109).

Ada pula yang berpendapat bahwa shalat gerhana Bulan sebaiknya dilakukan sendirian.

Pendapat ini dipegang oleh Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki.

Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki menyebutkan tata cara shalat gerhana bulan menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki dalam Ibanatul Ahkam, Syarah Bulughul Maram sebagai berikut:

وقالت الحنفية صلاة الخسوف ركعتان بركوع واحد كبقية النوافل وتصلى فرادى، لأنه خسف القمر مرارا في عهد الرسول ولم ينقل أنه جمع الناس لها فيتضرع كل وحده، وقالت المالكية: ندب لخسوف القمر ركعتان جهرا بقيام وركوع واحد كالنوافل فرادى في المنازل وتكرر الصلاة حتى ينجلي القمر أو يغيب أو يطلع الفجر وكره إيقاعها في المساجد جماعة وفرادى

Artinya, “Kalangan Hanafi mengatakan, shalat gerhana bulan itu berjumlah dua rakaat dengan satu rukuk pada setiap rakaatnya sebagai shalat sunah lain pada lazimnya, dan dikerjakan secara sendiri-sendiri. Pasalnya, gerhana bulan terjadi berkali-kali di masa Rasulullah SAW tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul mengumpulkan orang banyak, tetapi beribadah sendiri. Kalangan Maliki menganjurkan shalat sunah dua rakaat karena fenomena gerhana bulan dengan bacaan jahar (lantang) dengan sekali rukuk pada setiap kali rakaat seperti shalat sunah pada lazimnya, dikerjakan sendiri-sendiri di rumah. Shalat itu dilakukan secara berulang-ulang sampai gerhana bulan selesai, lenyap, atau terbit fajar. Kalangan Maliki menyatakan makruh shalat gerhana bulan di masjid baik berjamaah maupun secara sendiri-sendiri,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, Beirut, Darul Fikr, cetakan pertama, 1996 M/1416 H, juz I, halaman 114).
 
Bila shalat gerhana Bulan dilakukan secara berjamaah niatnya adalah sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini imâman/makmûman lillâhi ta‘âlâ.

Bila dikerjakan sendirian niatnya adalah sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Menurut mazab Hanafi dan Maliki, salat gerhana Bulan dikerjakan seperti salat sunah pada lazimnya, tetapi dikerjakan berulang-ulang hingga gerhana selesai.

Tidak ada batasan jumlah rakaatnya, tetapi dikerjakan per dua rakaat.

Cara shalatnya adalah sebagai berikut:

1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.

2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.

3. Baca ta‘awudz dan Surat Alfatihah. Setelah itu baca salah satu surat pendek Al-Quran dengan jahar (lantang).

4. Rukuk.

5. Itidal.

6. Sujud pertama.

7. Duduk di antara dua sujud.

10.Sujud kedua.

11.Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.

12.Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Durasi pengerjaan rakaat kedua lebih pendek daripada pengerjaan rakaat pertama.

13.Salam.

14.Istighfar dan doa.

Shalat sunah gerhana Bulan juga dapat dikerjakan dengan ringkas, yaknii membaca Surat Alfatihah saja pada setiap rakaat tanpa surat pendek atau dengan surat pendek.

Ini seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini:

ولو اقتصر على الفاتحة في كل قيام أجزأه، ولو اقتصر على سور قصار فلا بأس

Artinya, “Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah,” (Lihat Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303).

Sedangkan mazab lain menganjurkan untuk dilakukan dua ruku' setiap rakaatnya. Surat yang dibaca setelah Alfatihah juga dianjurkan yang panjang, agar bisa menyesuaikan dengan waktu gerhana yang lama.


Sebelum shalat sunah gerhana dilakukan, biasanya akan diawali dengan shalat sunah dua rakaat. Tata cara lengkap salat gerhana Bulan berjemaah adalah sebagai berikut:
1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.
2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
3. Baca taawudz dan Surat Alfatihah. Setelah itu membaca Surat Albaqarah atau selama surat itu dibaca dengan jahar (lantang).
5.  Rukuk dengan membaca tasbih, lamanya seperti membaca 100 ayat Surat Albaqarah.
6. I'tidal, bukan baca doa i’tidal, tetapi baca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Ali Imran atau selama surat itu.

7. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat Surat Albaqarah.

8. Itidal. Baca doa i’tidal.

9. Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.

10. Duduk di antara dua sujud.

11.Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.

12. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.

13. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama seperti rakaat pertama.

Pada rakaat kedua pada berdiri pertama dianjurkan membaca surat Annisa (setelah Alfatihah).

Sedangkan pada berdiri kedua (setetlah ruku') dianjurkan membaca Surat Al-Maidah.

13.Salam.

14.Imam atau orang yang diberi wewenang menyampaikan dua khutbah shalat gerhana. 


Begitu salam selesai diucapkan, maka sangat disunahkan untuk berdoa setelah shalat gerhana bulan. Sebabnya di waktu setelah shalat gerhana bulan adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa.
Doa setelah shalat gerhana bulan

Doa yang harus diucapkan setelah shalat gerhana bulan sebagai berikut:

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah, agar hamba takut kepadaNya. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian seeorang. Maka jika engkau melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i shahih). 


Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan shalat dua rakaat gerhana tetap berlaku. Sedangkan dua khutbah shalat gerhana bulan boleh tetap berlangsung atau boleh dimulai meski gerhana bulan sudah usai. Demikian tata cara shalat gerhana bulan berdasarkan keterangan para ulama. (RadarIslam/ NU online)

Loading...
Sukai Artikel ini

Share This !

Terimakasih!
Anda Telah Membaca Artikel Terbaru
Posting Lama
Loading...